Rakor TPP Kota Banda Aceh Dorong Budaya Pelaporan Berkualitas dan Literasi Pendampingan
Bekerja Cerdas, Menulis Lebih Baik, dan Memanfaatkan AI dalam Pendampingan Desa
Suasana Rapat Koordinasi TPP Kota Banda Aceh.
Di tengah semakin meningkatnya tuntutan akuntabilitas program dan kebutuhan data yang akurat, kemampuan pendamping desa tidak lagi cukup hanya bekerja dengan baik di lapangan. Pendamping juga dituntut mampu mendokumentasikan, melaporkan, dan mengomunikasikan hasil pendampingan secara baik, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, P Irham bersama Ibu Baliani dan Bapak Isnadi (Tim TAPM Kota Banda Aceh) memfasilitasi pelaksanaan Rapat Koordinasi Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kota Banda Aceh. Rakor ini membahas berbagai isu strategis pendampingan desa, mulai dari manajemen pelaporan, penguatan literasi, pemanfaatan AI, Indeks Desa 2026, perencanaan pembangunan desa 2027, pemanfaatan Dana Desa 2025, konvergensi stunting, penyaluran Dana Desa 2026, hingga implementasi DRP V3.
Inti Pesan Rakor
Laporan bukan sekadar kewajiban administrasi. Laporan adalah bukti kerja, rekam proses pendampingan, bahan evaluasi, sekaligus sumber pembelajaran bagi TPP dan desa.
Tantangan Pendamping: Bukan Kurang Bekerja, Tetapi Kurang Mendokumentasikan
Banyak kegiatan pendampingan yang sebenarnya sangat baik, tetapi belum tergambar secara utuh dalam laporan. Tidak sedikit laporan hanya berisi kalimat singkat seperti:
“Mengikuti rapat BUMDes di kantor desa.”
Padahal di balik kalimat tersebut bisa saja terdapat proses diskusi, pembahasan masalah usaha desa, penyusunan rencana tindak lanjut, hingga lahirnya kesepakatan penting. Karena itu, pelaporan perlu menggambarkan proses, peran pendamping, materi yang dibahas, dan hasil yang dicapai.
Bekerja Cerdas di Tengah Banyaknya Tuntutan Pelaporan
Dalam materi Manajemen Pelaporan TPP disampaikan bahwa persoalan laporan sering kali bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena sistem kerja belum tertata. Laporan terlambat, data tidak lengkap, bukti kegiatan tercecer, dan banyak revisi biasanya muncul karena kebiasaan menunda pencatatan.
Catat hari ini, agar tidak mengingat besok.
AI Bukan Menggantikan Pendamping, Tetapi Membantu Pendamping
Salah satu topik menarik dalam rakor adalah pemanfaatan Artificial Intelligence atau AI. AI tidak menggantikan pengalaman lapangan, pengetahuan, maupun peran TPP. AI hanya membantu merapikan catatan lapangan menjadi laporan yang lebih lengkap, sistematis, dan mudah dipahami.
Contoh Pemanfaatan AI untuk DRP
Catatan sederhana TPP:
Memberi penguatan kepada Pengurus BUMG terkait laporan keuangan BUMDes. Peserta 8 orang. Membahas aplikasi akuntansi BUMDes dan praktik memasukkan transaksi keuangan.
Setelah dibantu AI, dapat menjadi:
Memenuhi undangan Keuchik Gampong Merduati untuk memberikan penguatan kapasitas kepada Pengurus BUMG Taman Siswa terkait standar pelaporan akuntansi keuangan BUMDes. Kegiatan diikuti oleh 8 peserta yang terdiri dari pengurus BUMG. Materi yang disampaikan meliputi pencatatan transaksi keuangan, penyusunan laporan keuangan, serta pemanfaatan aplikasi akuntansi BUMDes. Untuk memperkuat pemahaman peserta dilakukan praktik langsung penginputan transaksi ke dalam aplikasi. Hasil kegiatan berupa meningkatnya pemahaman dan kemampuan pengurus BUMG dalam melakukan pencatatan dan pelaporan keuangan secara tertib dan akuntabel.
Kesimpulannya: substansi tetap berasal dari fakta lapangan. AI hanya membantu menyusun kalimat agar lebih lengkap, rapi, dan mudah dipertanggungjawabkan.
DRP yang Baik Harus Menggambarkan Apa?
- Peran pendamping dalam kegiatan;
- Materi atau topik yang dibahas;
- Jumlah peserta, terutama untuk kegiatan peningkatan kapasitas;
- Proses kegiatan yang dilakukan;
- Hasil atau capaian yang diperoleh.
Dengan unsur tersebut, laporan tidak hanya menunjukkan bahwa kegiatan telah dilakukan, tetapi juga menjelaskan manfaat dan hasil pendampingan.
Mengapa TPP Harus Menulis?
Setiap hari pendamping menyaksikan banyak praktik baik di desa: musyawarah desa, pengembangan BUMDes, kegiatan ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, posyandu, pelatihan masyarakat, hingga inovasi desa. Namun banyak cerita baik tersebut hilang karena tidak pernah ditulis.
Menulis bukan berarti harus menjadi wartawan. Menulis bagi TPP adalah cara mendokumentasikan kerja pendampingan, menyimpan pembelajaran, dan membagikan praktik baik agar dapat menjadi inspirasi bagi desa lain.
Tujuan Penguatan Literasi TPP
- Membiasakan TPP menulis kegiatan secara sederhana dan rutin;
- Mendokumentasikan praktik baik desa agar tidak hilang tanpa jejak;
- Meningkatkan kualitas publikasi kegiatan pendampingan;
- Menyebarluaskan pembelajaran dari desa ke desa lain;
- Menunjukkan bahwa pendampingan benar-benar hadir dan memberi manfaat.
Rumus Menulis Praktis untuk TPP
Rumus Singkat
Kegiatan + Peserta + Proses + Hasil = Tulisan yang Baik
Jika ingin lebih lengkap, gunakan 5W + 1H: Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana.
- What: Apa kegiatannya?
- Who: Siapa yang terlibat?
- Where: Di mana kegiatan dilaksanakan?
- When: Kapan kegiatan dilakukan?
- Why: Mengapa kegiatan dilakukan?
- How: Bagaimana proses dan hasilnya?
Sedikit Lebih Lengkap di Awal, Lebih Mudah di Akhir
Jika sejak awal deskripsi DRP ditulis lebih lengkap, memuat materi, peserta, proses, dan hasil, maka saat menyusun laporan bulanan atau laporan peningkatan kapasitas, TPP tidak perlu lagi mengingat-ingat kegiatan yang sudah berlalu. Sebagian besar bahan laporan sudah tersedia di DRP.
Begitu juga dengan AI. Mungkin perlu sedikit waktu untuk belajar dan membiasakan diri. Namun setelah terbiasa, AI dapat membantu menghemat waktu, mengurangi pekerjaan berulang, dan meningkatkan kualitas laporan.
“Yang berat bukan membuat laporan yang baik. Yang berat adalah memperbaiki laporan yang kurang lengkap ketika waktu sudah mepet dan data sudah lupa.”
😄🙏
Komentar
Posting Komentar