Rembuk Stunting Gampong Mulia: Kader dan Warga Sepakat Perkuat Data Akurat demi Cegah Stunting Menuju 2027
Banda Aceh — Semangat gotong royong mencegah stunting kembali menggema di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Selasa (7/7/2026), Aula Komplek Mesjid Al Anshar Gampong Mulia dipadati oleh unsur pemerintah gampong, tenaga kesehatan, kader posyandu, PKK, hingga guru PAUD dalam kegiatan Rembuk Stunting/Pra Musyawarah Desa Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 WIB ini menjadi bagian penting dari rangkaian Konvergensi Pencegahan Stunting Tahun 2027 di tingkat gampong.
Rembuk stunting ini merupakan
tindak lanjut dari hasil pendataan rumah tangga 1.000 Hari Pertama Kehidupan
(HPK) yang telah dilakukan oleh Kader Pembangunan Manusia (KPM) Gampong Mulia.
Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan duduk bersama untuk membedah
data, merumuskan masalah, dan menyusun prioritas usulan penanganan stunting untuk
tahun anggaran 2027.
Dihadiri Lintas Sektor
Kegiatan ini dihadiri oleh
Keuchik Gampong Mulia, Tenaga Pendamping Profesional (TPP), petugas kesehatan
Puskesmas Kuta Alam, Bidan Desa, Ketua dan Anggota PKK, Kader Posyandu, serta
Guru PAUD. Dua narasumber utama tampil memberikan arahan dalam forum ini,
yaitu:
- Ibu PKK Kecamatan Kuta Alam, yang
menyampaikan hal-hal teknis serta solusi atas berbagai permasalahan dan
kendala dalam penanganan stunting di lapangan.
- Irhamuddin,
Tenaga Ahli Pendamping Masyarakat (TAPM) Kota Banda Aceh, yang menekankan
pentingnya komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan (stakeholder)
dalam konvergensi pencegahan stunting di Gampong Mulia, sekaligus
memperkuat perencanaan gampong agar mampu menjawab persoalan kesehatan,
khususnya di Gampong Mulia, yang selanjutnya akan diakomodir dalam RKPG
(Rencana Kerja Pembangunan Gampong) Tahun 2027.
Turut hadir mendampingi jalannya
forum, dr. Posni Darwis selaku Ketua TP2PK Kecamatan Kuta Alam, Baliyani
(TAPM), Miswar Triana selaku Sekretaris TP2PK Kecamatan Kuta Alam, Wahyu
Rizki dan Aprizal selaku Pendamping Lokal Desa (PLD), serta Rita
dan Heni dari Puskesmas Kuta Alam.
Acara dibuka langsung oleh
Keuchik Gampong Mulia. Dalam sambutannya, ia meminta agar para kader dapat
lebih aktif dan partisipatif sehingga kesadaran masyarakat terhadap kesehatan,
khususnya pencegahan stunting, semakin meningkat. Keuchik juga menyampaikan
apresiasi atas dukungan yang selama ini diberikan terhadap kegiatan PKK dan
posyandu di gampong.
Sambutan kemudian dilanjutkan
oleh Irhamuddin selaku TAPM Kota Banda Aceh, yang menekankan dua hal mendasar
dalam penyelesaian persoalan stunting di desa: pertama, membangun komitmen
bersama seluruh stakeholder melalui pembedahan data masalah untuk
memastikan arah penyelesaian yang jelas; kedua, mengawal setiap program
yang diusulkan oleh kader hingga benar-benar diajukan dan direalisasikan oleh
pemerintah gampong, sekaligus memastikan perencanaan gampong dapat menjawab
persoalan kesehatan yang akan diakomodir dalam RKPG Tahun 2027.
Enam Agenda Utama
Rembuk stunting ini membahas enam
pokok agenda, meliputi pembukaan, penyampaian hasil pendataan 1.000 HPK sesuai
peta sosial dasar, pembahasan masalah dan gagasan terkait intervensi 7 paket
layanan dalam perencanaan desa TA 2027, penyusunan prioritas usulan pencegahan
stunting TA 2027, penyampaian laporan evaluasi kinerja KPM, hingga penutup.
Sorotan Diskusi: Data Harus Akurat dan Sinkron
Salah satu isu yang paling banyak
mendapat tanggapan dalam forum ini adalah soal akurasi dan sinkronisasi data.
Peserta menyoroti masih adanya perbedaan data cakupan imunisasi dan partisipasi
masyarakat ke posyandu antara data Puskesmas dan data yang ada di kantor
Keuchik.
Forum menegaskan bahwa
sosialisasi mengenai pentingnya imunisasi dan membawa anak ke posyandu memang
merupakan langkah baik, namun harus disertai data sasaran yang akurat serta
materi dan pemateri yang jelas agar tujuan dan output sosialisasi benar-benar
sampai kepada warga. Disepakati pula bahwa apabila terjadi ketidaksinkronan
antara data Puskesmas dan data gampong, maka solusinya adalah mengoptimalkan
peran Kader Dasa Wisma sebagai penghubung data dari tingkat rumah
tangga.
Terkait rendahnya partisipasi masyarakat ke posyandu, peserta mengusulkan agar sosialisasi dilakukan lebih masif melalui spanduk maupun himbauan di masjid, dengan syarat kader posyandu benar-benar memahami sasaran sosialisasi tersebut. Forum juga mengusulkan pelibatan tokoh agama atau imam gampong untuk meluruskan isu-isu keliru (hoaks) seputar imunisasi yang masih beredar di masyarakat, mengingat pentingnya edukasi tumbuh kembang anak melalui imunisasi.
Kelas Ayah, Konseling Gizi, hingga Program PAUD
Pembahasan turut menyentuh
efektivitas program Kelas Ayah, di mana peserta mempertanyakan apakah
kegiatan tersebut telah menyasar target yang tepat dan memberikan dampak nyata
berupa peningkatan partisipasi dibanding periode sebelumnya.
Pada sesi Konseling Gizi
Terpadu, muncul catatan bahwa masih banyak orang tua balita yang kurang
peduli dan minim kehadiran dalam kegiatan gizi. Pihak Puskesmas menanggapi
bahwa selama ini bantuan suplai makanan bergizi dari Dinas Kesehatan serta
program KB telah banyak disalurkan, namun belum terlihat peningkatan signifikan
pada sejumlah anak. Disampaikan pula bahwa sosialisasi gizi seimbang bagi ibu
hamil dinilai bergantung pada kesadaran masing-masing keluarga.
Sementara itu, perwakilan PAUD
mengusulkan agar digelar kegiatan parenting bagi orang tua siswa, dengan
materi dan pemateri yang akan ditentukan kemudian.
Air Bersih, Sanitasi, dan Penguatan Pokja
Isu air bersih dan sanitasi
turut dibahas, dan peserta menyampaikan bahwa persoalan ini telah dimasukkan ke
dalam RAPBG (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong) untuk
direalisasikan tahun ini.
Forum juga menyoroti kebutuhan
tempat kegiatan PAUD, biaya pemeliharaan alat-alat posyandu, serta penguatan
kegiatan Posbindu Remaja yang menyasar isu pergaulan remaja, kesehatan reproduksi,
dan pencegahan pernikahan dini. Selain itu, pengasuhan anak dan pencegahan
pernikahan dini turut menjadi perhatian bersama.
Untuk mendukung ketahanan pangan,
peserta mengusulkan pengaktifan kembali Pokja 3, dengan program
pelatihan tani dan pengadaan gizi. Pembinaan kelompok tani dinilai penting agar
persoalan ketahanan pangan seperti yang pernah terjadi pada tahun 2023 tidak
kembali terulang.
Dari unsur kader, dua isu
tambahan turut mengemuka: penanganan dampak gedget pada remaja, serta usulan pembentukan
kelas lansia untuk penyakit kronis. Terkait kelas lansia, forum sepakat
bahwa materi mengenai pola makan bagi lansia dengan penyakit tertentu masih
perlu diperkuat, sehingga ke depan perlu dirumuskan secara lebih matang materi,
pemateri, sasaran, tujuan, serta output dari kegiatan tersebut.
Menuju Konvergensi Pencegahan Stunting 2027
Seluruh hasil rembuk ini
selanjutnya dituangkan dalam risalah resmi sebagai bahan penyusunan prioritas
usulan pencegahan stunting Gampong Mulia untuk Tahun Anggaran 2027. Berita
Acara kegiatan ditandatangani dan disahkan oleh Keuchik Gampong Mulia, Kurnia
Zaith, pada 7 Juli 2026.
Rembuk stunting ini menjadi bukti
nyata komitmen Gampong Mulia dalam mendukung program percepatan penurunan
stunting di Kota Banda Aceh, sekaligus penegasan bahwa penanganan stunting
bukan hanya tugas tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh
elemen masyarakat — mulai dari pemerintah gampong, kader posyandu, PKK, guru
PAUD, hingga tokoh agama.
(Sumber: Berita Acara dan Notulen
Rembuk Stunting Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, 7 Juli
2026)


Komentar
Posting Komentar