Mindset dan Tenaga Pendamping Profesional
TPP dan Mindset: Mengapa Pendamping yang Sama Bisa Menghasilkan Dampak yang Berbeda?
Hampir di setiap kelas, pelatihan, seminar, maupun forum pengembangan diri, kita sering mendengar satu kata yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam: mindset.
Dalam kelas bisnis kita bicara tentang business mindset. Dalam dunia kerja kita bicara tentang professional mindset. Dalam kepemimpinan kita bicara tentang leadership mindset. Dalam keluarga kita bicara tentang parenting mindset.
Dan dalam dunia pemberdayaan masyarakat, kita juga sering bicara tentang bagaimana membangun pola pikir agar masyarakat mampu berubah, berkembang, dan semakin mandiri.
Mengapa Pendamping yang Sama Bisa Menghasilkan Dampak yang Berbeda?
Pertanyaan ini menarik untuk kita renungkan sebagai Tenaga Pendamping Profesional (TPP).
Mengapa seseorang dengan kemampuan yang relatif sama dapat menunjukkan hasil kerja yang berbeda pada situasi yang berbeda?
Mengapa ada pendamping yang pada suatu kesempatan mampu bekerja sangat prima, tetapi pada kesempatan lain performanya tidak sekuat sebelumnya?
Apakah semata-mata karena kemampuan orangnya? Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu kita pahami?
Mindset Bukan Sekadar Pikiran
Secara sederhana, mindset dapat dipahami sebagai pola keyakinan, cara pandang, dan asumsi yang kita gunakan ketika memahami diri sendiri, orang lain, serta keadaan di sekitar kita.
Ia seperti kacamata.
Dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda karena "kacamata" yang digunakan berbeda.
"Saya sedang dijatuhkan."
Orang lain berpikir:
"Mungkin ada sesuatu yang harus saya perbaiki."
Peristiwanya sama. Tetapi responsnya berbeda.
Mengapa? Karena cara memaknainya berbeda.
Dalam psikologi, cara seseorang menafsirkan suatu peristiwa dapat memengaruhi emosi dan kemudian memengaruhi tindakan yang dipilihnya.
Otak Kita Punya Kemampuan untuk Berubah
Ilmu tentang otak memberikan satu kabar baik bagi manusia: otak bukan sesuatu yang sepenuhnya statis.
Dalam ilmu saraf dikenal istilah neuroplasticity, yaitu kemampuan sistem saraf untuk mengalami perubahan sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, lingkungan, dan latihan.
Artinya, jangan terlalu cepat mengatakan:
- "Saya memang begini orangnya."
- "Saya memang tidak bisa."
- "Saya sudah terlalu tua untuk belajar."
- "Saya tidak cocok dengan teknologi."
- "Saya tidak cocok dengan perubahan."
Bisa jadi itu bukan kenyataan yang final. Bisa jadi itu hanyalah mindset yang sudah terlalu lama dipelihara.
Tentu saja, ini bukan berarti seseorang dapat menjadi apa saja hanya dengan berpikir positif. Kompetensi, pengalaman, kesempatan, dukungan, kesehatan, dan berbagai faktor lain tetap berpengaruh.
Tetapi manusia memiliki ruang untuk belajar, beradaptasi, memperbaiki strategi, dan berkembang.
Growth Mindset: "Saya Belum Bisa"
Dalam psikologi dikenal konsep growth mindset, yang dipopulerkan melalui penelitian Carol Dweck. Intinya adalah keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui pembelajaran, strategi, usaha, pengalaman, dan umpan balik.
Sebaliknya, fixed mindset cenderung melihat kemampuan sebagai sesuatu yang sudah tetap.
Maka kegagalan tidak harus dibaca:
Tetapi dapat dibaca:
Bukan: "Saya gagal."
Tetapi: "Saya sedang belajar dari pengalaman."
Kata "belum" memang sederhana, tetapi dapat mengubah arah pikiran.
Lalu, Di Mana Posisi Iman?
Di sinilah perspektif Islam memberikan kedalaman yang sangat penting.
Kalau psikologi modern berbicara tentang bagaimana manusia mengubah cara berpikir, Islam mengajak kita bertanya lebih jauh:
Kalau mindset hanya diarahkan untuk mengejar uang, jabatan, popularitas, kemenangan, atau pengakuan manusia, maka manusia bisa saja menjadi sangat sukses secara duniawi tetapi kehilangan arah batin.
Karena itu, dalam perspektif Islam, perubahan tidak berhenti pada pikiran. Ia menyentuh qalb, nafs, akhlak, niat, dan amal.
Dalam tradisi Islam dikenal konsep tazkiyatun nafs, yaitu proses memperbaiki dan menyucikan jiwa agar kehidupan batin, akhlak, dan perbuatan semakin selaras dengan ketaatan kepada Allah.
"Untuk apa saya sukses?"
Mindset Seperti Sebuah Bangunan
Mindset dapat kita ibaratkan sebagai sebuah bangunan. Bangunan yang kokoh membutuhkan fondasi.
Demikian pula pola pikir manusia.
Dalam perspektif seorang Muslim, fondasi paling mendasar adalah aqidah.
Dari aqidah lahir jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan:
- Dari mana saya berasal?
- Untuk apa saya hidup?
- Ke mana saya akan kembali setelah kehidupan ini?
Jika pertanyaan-pertanyaan besar itu jelas, maka banyak keputusan hidup menjadi lebih mudah ditempatkan.
Karier menjadi bagian dari amanah. Jabatan menjadi tanggung jawab. Harta menjadi sarana. Ilmu menjadi amanah. Kekuasaan menjadi ujian. Pelayanan menjadi ibadah.
TPP: Mindset Bukan Sekadar Teori
Bagi TPP, mindset bukan sekadar teori yang bagus untuk dibicarakan di ruang kelas. Ia diuji setiap hari dalam pekerjaan.
Kita bertemu berbagai karakter manusia. Kita menghadapi persoalan yang tidak selalu sama. Kita menemukan situasi yang kadang sesuai rencana, kadang jauh dari harapan.
Di sinilah mindset menjadi penting.
Karena seorang pendamping tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk membaca situasi, berkomunikasi, beradaptasi, mengendalikan emosi, dan memilih respons yang tepat.
Situasi Sama, Respons Bisa Berbeda
Ketika masyarakat belum berubah
Jangan buru-buru berkata:
Tetapi coba bertanya:
Ketika pendamping melakukan kesalahan
Jangan langsung memberi label:
Tetapi tanyakan:
Ketika program tidak berjalan
Jangan berhenti pada:
Tetapi lanjutkan dengan:
Ketika mendapat kritik
Jangan langsung menganggap kritik sebagai serangan.
Bisa jadi kritik adalah cermin yang hadir melalui orang lain.
Tidak semua kritik benar. Tetapi tidak semua kritik harus ditolak.
Jangan Terjebak pada "Mindset Sukses"
Hari ini kita terlalu sering mendengar:
- Mindset sukses.
- Mindset kaya.
- Mindset pemenang.
- Mindset orang hebat.
Semua itu tidak salah.
Tetapi seorang Muslim perlu bertanya lebih dalam:
Kalau ukuran sukses hanya jabatan, kita akan kecewa ketika jabatan berpindah.
Kalau ukuran sukses hanya uang, kita akan merasa kurang ketika melihat orang lain lebih kaya.
Kalau ukuran sukses hanya popularitas, kita akan gelisah ketika tidak lagi diperhatikan.
Tetapi kalau ukuran sukses dibangun di atas iman, amanah, ilmu, akhlak, manfaat, dan ridha Allah, maka ukuran kesuksesan menjadi jauh lebih luas.
Ada keberhasilan yang mungkin hanya diketahui oleh Allah.
Perubahan Dimulai dari Dalam
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
QS. Ar-Ra'd: 11Ayat ini sering dikutip sebagai motivasi perubahan. Namun kita perlu membacanya dengan hati-hati dan tidak menyederhanakannya menjadi slogan: "ubah mindset, maka semua pasti berubah."
Perubahan manusia lebih utuh ketika perubahan itu menyentuh cara berpikir, sikap, perbuatan, kebiasaan, niat, dan ikhtiar.
↓
Luruskan niat
↓
Tambah ilmu
↓
Perbaiki sikap
↓
Ubah kebiasaan
↓
Ikhtiar
↓
Tawakal
Ilmu Tanpa Refleksi Bisa Berhenti di Kepala
Ada kebiasaan sederhana yang sangat penting bagi seorang pendamping: muhasabah.
Setiap hari bertanya kepada diri sendiri:
- Apa yang saya pelajari hari ini?
- Apa yang saya pahami dari kejadian hari ini?
- Kesalahan apa yang saya lakukan hari ini?
- Apa yang bisa saya perbaiki besok?
- Siapa yang hari ini memberikan pelajaran kepada saya?
- Apa yang sudah saya lakukan yang bermanfaat bagi orang lain?
Maka seorang TPP seharusnya bukan hanya bertanya:
Tetapi juga:
Karena pengalaman yang tidak direnungkan hanya menjadi kejadian.
Tetapi pengalaman yang direnungkan dapat menjadi ilmu.
Dan ilmu yang diamalkan dapat menjadi hikmah.
Mindset Bukan Berpikir Positif Secara Membabi Buta
Mindset sehat bukan berarti kita harus selalu berkata:
Padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.
Mindset sehat bukan menyangkal masalah. Bukan pura-pura kuat. Bukan menutup mata terhadap kenyataan.
Mindset sehat justru berani melihat kenyataan dengan jernih.
- Masalah diakui.
- Kesalahan diakui.
- Kelemahan diakui.
- Kegagalan diterima.
Kemudian kita bertanya:
Mindset Seperti Apa yang Perlu Dimiliki TPP?
-
Dari "saya tahu" menjadi "saya terus belajar".
Karena ilmu selalu berkembang. -
Dari "saya paling benar" menjadi "saya siap menerima masukan".
Karena tidak ada manusia yang sempurna. -
Dari "masyarakat sulit" menjadi "saya perlu mencari pendekatan".
Karena pendamping bukan hakim masyarakat. -
Dari "gagal" menjadi "belajar".
Karena kegagalan dapat menjadi data untuk memperbaiki strategi. -
Dari "jabatan" menjadi "amanah".
Karena posisi adalah titipan. -
Dari "ingin terlihat hebat" menjadi "ingin memberi manfaat".
Karena kerja pemberdayaan bukan panggung untuk ego. -
Dari "apa yang saya dapat?" menjadi "apa yang bisa saya berikan?"
Karena inti pendampingan adalah kebermanfaatan. -
Dari "mengapa ini terjadi kepada saya?"
menjadi "apa yang bisa saya pelajari dari ini?"
Di sinilah mindset bertemu dengan tawakal dan tasawuf.
Jangan Berhenti Belajar
Pada akhirnya, mungkin inilah mindset paling penting bagi seorang pendamping:
Karena masyarakat terus berubah.
Teknologi terus berubah.
Kebijakan terus berubah.
Generasi terus berubah.
Tantangan pembangunan desa terus berubah.
Dan kita pun harus terus bertumbuh.
Jangan malu mengatakan:
Justru orang yang berani mengatakan "saya belum tahu" sedang membuka pintu untuk mengetahui.
Jangan malu mengatakan:
Karena orang yang mampu mengakui kesalahan memiliki peluang untuk memperbaikinya.
Jangan takut mengatakan:
Penutup: TPP Bukan Hanya Mendampingi Perubahan
Pada akhirnya, mindset bukan sekadar teknik untuk menjadi lebih sukses. Ia adalah cara kita memandang kehidupan.
Psikologi mengajarkan bahwa cara kita berpikir berkaitan dengan emosi dan perilaku.
Ilmu tentang otak menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi melalui pengalaman.
Konsep growth mindset mengajarkan bahwa kemampuan dapat dikembangkan.
Sementara perspektif Islam mengingatkan bahwa perubahan tidak cukup hanya pada pikiran, tetapi juga membutuhkan perbaikan jiwa, niat, akhlak, dan amal.
Dua orang bisa menghadapi masalah yang sama, tetapi memilih respons yang berbeda.
Dan dari cara berpikir, memilih respons, serta konsistensi dalam belajar itulah dampak akhirnya bisa berbeda.
Untuk Kita Renungkan...
Sebelum mengatakan: "Saya sudah tahu."
Cobalah bertanya:
"Apa lagi yang bisa saya pelajari?"
Sebelum menyalahkan keadaan:
"Apa yang bisa saya perbaiki dari diri saya?"
Sebelum merasa sudah cukup:
"Apakah saya masih bertumbuh?"
Sebab pada akhirnya, perjalanan menjadi TPP bukan tentang siapa yang paling hebat.
Bukan pula tentang siapa yang paling banyak berbicara.
Tetapi tentang siapa yang terus belajar, terus memperbaiki diri, mampu beradaptasi, tetap rendah hati, dan terus memberi manfaat.
Ubah mindset.
Luruskan niat.
Tambah ilmu.
Perbaiki akhlak.
Perkuat ikhtiar.
Serahkan hasil kepada Allah.
Karena perubahan besar sering kali tidak dimulai dari luar.
Ia dimulai dari sesuatu yang sangat dekat: cara kita memandang diri sendiri, kehidupan, pekerjaan, manusia, dan Allah.
Dan mungkin benar:
Mari terus belajar.
Mari terus bertumbuh.
Mari terus memberi manfaat.
Komentar
Posting Komentar