Siapa Pun yang Berdiri di Depan adalah Guru
Di tengah kejenuhan itu, seorang teman yang duduk di samping saya mulai “berulah”. Tingkah nakalnya—mengganggu jalannya pelatihan—membuat suasana semakin riuh. Jujur saja, sebagian dari kami mungkin merasa terwakili oleh sikap itu, walau dalam hati.
Tak lama kemudian, supervisor kami datang. Pada saat jam istirahat, supervisor tersebut menegur teman kami yang tadi mengganggu, lalu membuka pembicaraan dengan sebuah kalimat sederhana namun sangat dalam maknanya:
“Siapa pun yang berdiri di depan adalah guru.”
Teman saya langsung menyanggah,
“ Tapi dia tidak siap. Bicaranya ngelantur ke mana-mana.”
Supervisor kami tersenyum, lalu menyela dengan tenang,
“Tetap guru. Paling tidak, dari situ kita belajar satu hal: nanti kalau kita berdiri di depan, jangan sampai seperti itu.”
Kalimat itu langsung menampar kesadaran saya.
Saat itu saya paham, bahwa belajar tidak selalu datang dari sosok yang sempurna. Kadang, justru dari kekurangan orang lain, kita mendapat pelajaran paling berharga—tentang kesiapan, tanggung jawab, dan sikap menghargai.
Sejak saat itu, saya mencoba menanamkan satu prinsip sederhana dalam diri:
hormati siapa pun yang sedang berdiri di depan, karena selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil entah dari kelebihannya, atau dari kekurangannya.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, hari itu sang pelatih telah menjadi guru… bukan lewat materi, tetapi lewat pengalaman.
=======
Catatan Reflektif :
Tulisan ini juga terinspirasi dari sebuah flyer bertajuk “RAHASIA MENGEJUTKAN” yang beredar luas di media sosial. Dari beberapa poin yang disampaikan, ada satu pesan sederhana namun sangat kuat dan relevan (point no 6) dengan cerita di atas yaitu :
“Biarkan orang lain menyelesaikan pembicaraannya, jangan pernah memotong pembicaraan.”
Dalam konteks pelatihan, diskusi, maupun forum pendampingan desa, poin ini bukan sekadar etika berbicara, tetapi cermin kedewasaan dan profesionalitas.
Mendengarkan hingga tuntas adalah bentuk penghormatan paling dasar kepada siapa pun yang sedang berdiri di depan—siap ataupun belum siap.
Karena sering kali, bukan dari kalimat yang sempurna kita belajar,
melainkan dari kesabaran kita memberi ruang orang lain menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan.
(gambar flyer “RAHASIA MENGEJUTKAN” disertakan di samping ini). (Irham)


Komentar
Posting Komentar